Badan Karantina Pertanian
 

Perkecil Risiko OPT, Barantan Susun Pest Risk Analysis

Administrator 20 April 2018 605

Bogor – Perdagangan komoditas pertanian antar negara pada satu sisi memberikan dampak positif bagi perolehan devisa dan pembangunan perekonomian suatu negara, namun pada sisi lain, disadari atau tidak pergerakan komoditas pertanian melalui kegiatan perdagangan yang melibatkan berbagai negara juga memiliki risiko terhadap berpindahnya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dari suatu negara ke negara lain.

Munculnya risiko berpindahnya OPT dari satu negara ke negara lain menyebabkan banyak negara memberlakukan persyaratan karantina tumbuhan bagi importasi komoditas pertanian agar bebas dari OPT yang tidak dikehendaki oleh negara bersangkutan. Karena hanya dengan cara tersebut risiko introduksi OPT asing (exotic pests) atau organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dapat diperkecil. Persyaratan karantina tumbuhan merupakan hasil penilaian dan analisis secara menyeluruh terhadap suatu OPT yang memiliki potensi terbawa oleh komoditas yang akan diimpor, dan proses analisis tersebut dikenal sebagai Pest Risk Analysis atau Analisis Risiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT).

Berkaitan dengan hal tersebut, Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati melakukan pembahasan AROPT di Arch Hotel, Bogor, pada 18 – 20 April 2018. Kegiatan dihadiri oleh penyusun AROPT (UPT dan Barantan) dan pembahas AROPT. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Dr. Ir. Giyanto, MSc, Dr. Ir. Tri Asmira Damayanti, MSc, dan Dr. Widodo sebagai narasumber.

Sepuluh draft AROPT Media Pembawa benih akan dibahas dalam kegiatan ini, yaitu Benih Alfalfa (Medicago sativa) asal Perancis, benih cauliflower (Brassica oleraceae var botrytis) asal Chile, bibit (kultur jaringan) Ranucullus hybrid asal Belanda, bibit anggur (Vitis vinifera) asal Ukraina, bibit (kultur jaringan) Schizozyluis coccinea asal Belanda, benih tomat (Solanum lycopersicum) asal China, benih cabai (Capsicum annuum) asal Spanyol, bibit (stek) Hevea brasiliensis asal Ghana, bibit (kultur jaringan) kurma (Phoenix dactylifera) asal Iran, dan benih Brassica napus asal Inggris.

Pembahasan AROPT ini menghasilkan bahwa rekomendasi pemasukan benih ke dalam wilayah RI, berupa persyaratan karantina tumbuhan dan kewajiban tambahan yang harus dipenuhi dalam pemasukan benih tersebut ke dalam wilayah RI. (Pusat KT&Kehati)


Related Post