Badan Karantina Pertanian
 

Aktifitas Enquiry Point

 Notifikasi SPS Negara Anggota WTO Tahun 2018

Bulan

Ringkasan Notifikasi SPS Negara Anggota WTO

Notifikasi SPS Negara Anggota WTO

Juli

pdf

rar

Juni

pdf

rar

Mei

pdf

rar

April

pdf

rar

Maret

pdf

rar

Februari

pdf

rar

Januari

pdf

rar

 

PERJANJIAN SPS DALAM KERANGKA KERJASAMA AMAF

Perjanjian SPS Dokumen
Memorandum of Understanding between Members of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and the World Organisation for Animal Health (OIE) pdf
Implementation Agreement for ASEAN-German Programme on Response to Climate Change : Agriculture, Forestry and Related Sectors (GAP-CC) pdf
ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve Agreement pdf
Agreement between the Governments of the Member States of the Association of Southeast Asian Nations and the Republic of Korea on Forest Cooperation pdf
Memorandum of Understanding on ASEAN Co-Operation in Agriculture and Forest Products Promotion Scheme pdf
Memorandum of Understanding between the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Secretariat and the Ministry of Agriculture of the People's Republic of China on Agricultural Cooperation pdf
Protocol to Amend the Agreement for the Establisment of ASEAN Animal Health Trust Fund pdf
ASEAN - China MoU on SPS pdf
ASEAN Statement on Strengthening Forest Law Enforcement and Governance (FLEG) pdf

 

PERTEMUAN THE 6th ASCP DAN THE 8th AC-SPS AND THE 6th ACSCP

Ke-3 pertemuan tersebut dilaksanakan pada tanggal 22-25 May 2018 di Chiang Mai, Thailand. Pertemuan dipimpin oleh Dr. Surmsuk Salakpetch, Director General of the National Bureau of Agricultural Commodity and Food Standards, Thailand dan didampingi oleh Ms. Thuy Linh Nguyen, Official, Ministry of Agriculture and Rural Development selaku vice co-chair. Rangkaian pertemuan ASCP ke-6, AC-SPS ke-8 dan ACSCP ke-6 ini diikuti oleh seluruh negara Anggota ASEAN yaitu Brunei, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapore, Thailand, VietNam dan ASEAN Sekretariat. Hasil ke-3 pertemuan antara lain sebagai berikut :

Pertemuan the 6th ASEAN Sanitary and Phytosanitary Contact Points (ASCP)

Agenda pertemuan ASCP ke-6 membahas: i). progress in the implementation of Policy framework related to ASEAN Cooperation in SPS antara lain Hasil Sidang Special SOM-AMAF ke-38, PRESOM AMAF ke-39 dan AMAF Meeting ke-39, serta Protocol 8 AFAFGIT: Sanitary and Phytosanitary of the ASEAN Framework Agreement on the Facilitation of Good in Transit; dan ii). ASEAN Cooperation on SPS under SOM-AMAF yaitu ASEAN-China dan AANZFTA. Pada agenda other matters dibahas status e-SPS Certificate yang ada di ASEAN Single Window serta GIZ Project on Facilitating Trade for Agricultural Goods in ASEAN

Beberapa catatan penting yang harus ditindaklanjuti pada pertemuan ASCP ke-6 adalah :

  • Terkait dengan agenda ASEAN Single Window, ASEAN Secretariat menyampaikan bahwa Indonesia dan Viet Nam telah siap untuk meng-aplikasikan e-Phyto Certificate dan e-Animal Health Certificate sedangkan Thailand hanya siap meng-aplikasikan e-Phyto Certificate.
  • Dalam pertemuan tersebut dipaparkan presentasi dari GIZ Project on Facilitating Trade for Agricultural Goods in ASEAN (FTAG). Penyelenggara (GIZ) akan mendesiminasi hasil project kepada seluruh negara ASEAN dalam bentuk workshop, back to back dengan pertemuan ASCP ke-7.

Pertemuan the 8th ASEAN Committee on Sanitary and Phytosanitary Measures (AC-SPS)

Agenda pertemuan AC-SPS ke-8 membahas tentang i). Follow-up to the Decisions of the Higher Level Meetings; ii).Work Programme of the AC SPS; iii). AC SPS Contact Points; dan iv). Other Matters dimana dibahas tentang Draft ASEAN Guidelines for Assessment and review on NTM (NTM Guidelines)

Dalam pertemuan kali ini yang harus ditindaklanjuti di pertemuan AC-SPS ke-8 adalah perlunya mencermati draft ASEAN Guidelines for Assessment and Review of NTMs yang dibahas di forum ASEAN Trade Facilitation Joint Consultative Committee (ATF-JCC)

Pertemuan the 6th ASEAN China Sanitary and Phytosanitary Cooperation Contact Points (ACSCP)

Pertemuan dipimpin oleh Dr. Surmsuk Salakpetch, Director General of the National Bureau of Agricultural Commodity and Food Standards, Thailand selaku co-chair ASEAN dan Mr. Zhang BaoFeng, Director General, Departement of International Cooperation, General Administration of Custom, China (GACC) selaku co-chair China

Agenda pertemuan ACSCP ke-6 membahas tentang i). Matter arising from ASEAN-China Meetings related to SPS Cooperation; ii). Outcomes of the 4th ASEAN China SPS Cooperation Technical Working Groups Meeting on Food Safety, Animal Inspection and Quarantine and Plant Inspection and Quarantine; iii). Progress of Action Plan for 2017-2018 for the Implementation of ASEAN China MOU on SPS Cooperation; iv). Renewal of the MOU between the Government of the PR China and the ASEAN on Strengthening SPS Cooperation; dan v). Preparation for the 6th ASEAN China Ministeral Meeting on Quality Supervision, Inspection and Quarantine (SPS Cooperation)

Beberapa catatan penting yang harus ditindaklanjuti pada pertemuan ACSSCP ke-6 adalah:

  • Pihak China menyampaikan bahwa saat ini terjadi perubahan struktur organisasi dimana AQSIQ menjadi bagian dari General Administrative of Custom China (GACC).
  • Pertemuan juga membahas perpanjangan MoU SPS Cooperation antara ASEAN dan China
  • Pertemuan ASEAN-China Ministerial Meeting on SPS Cooperation Quality Supervision, Inspection and Quarantine akan dilaksanakan di Viet Nam pada tahun 2018

*****

 

Pertemuan Putaran ke-2 IT-CEPA

Pertemuan putaran ke-2 Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) diselenggarakan pada tanggal 28-30 May 2018 di Anakara, Turkey. Dalam pertemuan tersebut delegasi Turkey dipimpin oleh Mr. Murat Yapici (Director General of EU Affairs at the Ministry of Economy), sementara Indonesia dipimpin oleh Ms. Ni Made Ayu Marthini (Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian Perdagangan).

Dalam sambutannya Mr. Murat Yapici menegaskan pentingnya peningkatan pertumbuhan dan diversifikasi perdagangan ke-2 negara dalam kerangka kerjasama CEPA, dan mendukung percepatan penyelesaian kesepakatan. Sementara Ms. Ni Made Ayu Marthini menegaskan melalui perundingan ini, diharapkan dapat mengurangi hambatan ekspor dan mampu meningkatkan ekspor Indonesia ke Turki, dimana salah satu tujuan perundingan adalah mengeliminasi hambatan perdagangan, baik tarif maupun non-tarif. Diharapkan Perundingan IT-CEPA dapat diselesaikan di awal tahun 2019.

Dalam kurun lima tahun terakhir perdagangan (ekspor) Indonesia ke Turkey cenderung mengalami penurunan, melalui perundingan IT-CEPA ini, diharapkan adanya perlakuan preferensi perdagangan terhadap produk-produk asal Indonesia agar dapat bersaing di pasar Turki. Produk Indonesia akan mengalami kesulitan bersaing di pasar Turki apabila masih menghadapi tarif tinggi. Turki merupakan salah satu negara yang paling aktif melakukan perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA). Negara tersebut telah melakukan 21 perjanjian yang telah diimplementasikan dan sebanyak sepuluh perjanjian masih dalam proses perundingan.

Terkait perundingan Sanitary and Phytosanitary Measures dalam pertemuan ke-2 IT-CEPA tersebut, Delegasi Indonesia dipimpin oleh Dr. Arifin Tasrif (Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Barantan), perundingan  membahas proposal article di dalam Chapter 4 (Sanitary and Phytosanitary Measures), ke-2 negara sepakat akan mendiskusikannya kembali dalam putaran perundingan berikutnya dimana baik Indonesia maupun Turkey menganggap masih perlu meminta tanggapan terlebih dahulu dari sektor terkait di dalam negeri masing-masing.

Total perdagangan Indonesia-Turki tahun 2017 sebesar 1,7 miliar dolar AS dengan nilai ekspor Indonesia ke Turki sebesar 1,2 miliar dolar AS, sementara total impor sebesar 534,1 juta dolar AS . Turki merupakan negara tujuan ekspor non-migas peringkat ke-28 Indonesia. 

 *****

 

BARANTAN SEBAGAI LEAD NEGOTIATOR SANITARY AND PHYTOSANITARY (SPS)

Pemerintah Kabinet Kerja Tahun 2014-2019 telah menetapkan agar Indonesia terlibat dalam berbagai blok perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dan menyeluruh (CEPA) baik yang dilaksanakan secara bilateral maupun regional. Hal ini dilakukan untuk meningkatan volume perdagangan antara negara-negara terkait dan daya saing produk perdagangan sehingga Indonesia tidak tertinggal dari sesama negara anggota ASEAN yang telah lebih dulu melakukan berbagai kerjasama melalui kerjasama FTA dan CEPA  dengan berbagai blok perdagangan bebas lainya. Pemerintah telah berkomitmen agar berbagai kerangka perundingan blok kerjasama FTA dan CEPA baik bilateral  maupun regional diharapkan dapat diselesaikan dalam kurung waktu 2015 s/d 2017. Berbagai perundingan Sanitary and Phytosanitary (SPS) dalam kerangka perdagangan bebas FTA dan CEPA yang sedang berlangsung antara lain Indonesia-Australia CEPA (IA CEPA), Indonesia-Uni Eropa CEPA IEU CEPA), Indonesia-Chile CEPA (IC CEPA), Indonesia-Eropa FTA (IEFTA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

 *****

SIDANG REGULER SPS KE-67

Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian diwakili oleh Kepala Badan Karantina Pertanian, dan Kepala Bidang Kerjasama Perkarantinaan, Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan kembali berpartisipasi sebagai Delegasi Indonesia (Delri) pada Sidang Reguler Komite SPS-WTO ke-67 yang diselenggarakan pada tanggal 26-28 Oktober 2016 di Jenewa. Selain dari Badan Karantina Pertanian, Delri juga berasal dari Kementerian Luar Negeri dan PTRI Jenewa.

Pada Sidang Komisi tersebut, Indonesia menyampaikan Specific Trade Concern (STC) terkait hambatan ekspor manggis Indonesia kepada Cina yang terhenti sejak tahun 2013 terkait dengan isu cemaran logam berat. Indonesia telah melakukan mitigasi risiko dan corrective action dalam menyelesaikan isu cemaran logam berat tersebut namun upaya penyelesaian secara bilateral yang dilakukan selama ini tidak mendapatkan hasil positif. Untuk itu penyampaian STC di forum SPS-WTO ini agar concern Indonesia mendapat perhatian dari WTO, mengingat dari sisi aturan WTO dilarang adanya hambatan perdagangan selain isu SPS dan TBT.

 

SIDANG REGULER SPS KE-65

Bertempat di Gedung World Trade Organization (WTO) di Jenewa, perwakilan dari Badan Karantina Pertanian kembali hadir sebagai Delegasi Indonesia pada Sidang Reguler Komite Sanitary and Phytsonaitary Measures (SPS) ke-65 tanggal 15-17 Maret 2016 bersama  Delegasi Indonesia dari Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan, dan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa. Rangkaian Sidang Reguler Komite SPS ke-65 dipimpin oleh Mr. Felipe Heez dari Brazil dan dihadiri oleh Negara Anggota WTO, observers dan beberapa Organisasi Internasional lainnya seperti Codex, IPPC dan OIE. Melalui Sidang Reguler SPS-WTO yang secara rutin diselenggarakan setiap 3 (tiga) kali setahun ini dilakukan review terhadap implementasi Perjanjian SPS yang telah dilakukan oleh negara anggota.

Pada Sidang Komte SPS-WTO ke-65 ini, Indonesia kembali menyampaikan perkembangan mengenai Peraturan Menteri Pertanian No. 04/2015 terkait Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan. Indonesia memberikan update informasi terkait status rekognisi keamanan pangan serta status registrasi laboratorium keamanan pangan negara mitra yang telah efektif mulai tanggal 17 Februari 2016. Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk tetap memfasilitasi negara mitra dalam memenuhi persyaratan yang termuat dalam Permentan 04/2015. Indonesia juga menyampaikan informasi tentang perkembangan hasil kunjungan tim verifikasi lapangan Indonesia mengenai status dari lalat buah Mediterania (Medfly) pada bulan Oktober 2016. Indonesia memahami upaya yang dilakukan oleh Chili dalam mengeradikasi Medfly, namun karena status Indonesia masih bebas dari Medfly maka perlu hati-hati dalam menetapkan rekognisi pest free area untuk Chile.